• Perayaan HUT ASPEK Indonesia Ke - 17

FGD K-PIN, Menggagas Kemandirian Finansial Pekerja

Peserta diskusi menyimak pemaparan ibu Novita Lubis(dok Tim Media ASPEK/TI)

 

Ramadhan bukan berarti harus bermalas malasan dengan alasan lapar serta haus, ramadhan sebuah bulan yang di sucikan oleh jutaan umat Islam seyogyanya tetap mencerminkan produktifitas terutama untuk para pekerja yang memang harus bersiap meski menjalankan ibadah puasa. Dalam hal ini K-PIN mengadakan sebuah kegiatan meski berbarengan dengan ibadah puasa, sebuah event Fokus Grup Discusion yang memperkaya cakrawala berpikir untuk anggota koperasi di bawah payung K-PIN.
Dengan nara sumber yakni Novita Lubis B.Comm, MBA, acara di hadiri beberapa afliasi yang tergabung di ASPEK Indonesia berlangsung pada tanggal 8 Juni 2017 bertempat di sekretariat DPP ASPEK Indonesia, Graha Alam Indah Jalan Condet Raya Blok C Batu Ampar, Kramat Jati, Jakarta Timur.
Dengan hangat nara sumber yang kelahiran Langsa, Nangroe Aceh Darusalam memaparkan strategi agar koperasi menjadi sebuah kekuatan ekonomi bagi para pekerja, diskusi menjelang waktu berbuka terlihat serius namun santai, obrolan ringan yang membuka wawasan bahwa sebenarnya dengan koperasi, kesejahteraan pekerja bisa di berdayakan secara optimal dengan langkah langkah yang progresif. Saat ini koperasi sedang menemukan momentum kebangktan di tanah air, kekuatan koperasi menjadi denyut nadi perekonomian di negara negara Skandinavia yang memiliki jaminan sosial bagi rakyatnya.
Diperlukan kemandirian modal yang sumber dananya berasal dari anggota, jika saja 100 ribu anggota ASPEK Indonesia memiliki kesadaran kolektif untuk bergabung dengan K-PIN dan besaran iuran 100 ribu rupiah, modal awal sangatlah signifikan. Selain itu di pikirkan juga jenis usaha apa yang akan di garap, beberapa pilihan jenis usaha mulai Serba Usaha, Simpan Pinjam ataupun Jasa. Untuk Serba Usaha bisa berupa kebutuhan pokok atau sembako, keagenan atau bisa pula mini market.
Simpan Pinjam, anggota berhak melakukan pinjaman, pinjaman uang sebesar simpanan anggota atau bisa dengan kesepakatan. Di bidang Jasa, koperasi bisa di kembangkan dengan konsep ketahanan ekonomi dan memiliki nilai ekonomis seperti rental mobil, jasa produksi atau juga jasa percetakan.
Pada intinya koperasi adalah memakmurkan anggota dengan tujuan adalah kesejahteraan, dengan adanya organisasi selayaknya mengubah mindset berpikir dari tadinya bersikap konsumtif menjadi lebih produktif. FGD K-PIN semakin menarik dengan pemaparan pemaparan Ibu Novita yang sangat kekinian, kita bisa berubah dan ini merupakan peluang bagi pekerja untuk membentuk kemandiran finansial dengan berkoperasi.

 

 
Acara diskusi di jeda sementara karena peserta berbuka puasa, setelah mencicipi hidangan, acara pun berlanjut dengan telaah ekonomi yang di sampaikan Ibu Novita. Semoga dengan di adakannya diskusi yang di selenggarakan K-PIN akan ada kesadaran dari anggota afliasi ASPEK Indonesia membangkitkan gerakan koperasi yang di kelola ASPEK Indonesia.(Tim Media ASPEK/TI)

Ichsanudin Nursi dalam KSPI, Bukan Investasi tapi Invasi Selengkapnya : http://www.kompasiaIchsanudin nursi dalam kspi, bukan investasi tapi invasi

Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), hari ini, Selasa, 1 Maret 2015 melakukan Rapat Kerja Nasional ke-IV nya di Hotel Grand Cempaka, Jakarta Pusat. Rapat Kerja Nasional ini, direncanakan berakhir hingga tanggal 3 Maret 2016 mendatang. KSPI membuka Rapat Kerja Nasionalnya dengan Seminar Nasional bertema “Mewujudkan Indonesia Baru, Indonesia kita bukan hanya Indonesia kamu” dan hadir beberapa tamu undangan baik nasional maupun Internasional, disamping beberapa undangan internal keterwakilan pengurus daerah KSPI dari seluruh Indonesia. Beberapa tamu kehormatan, memberikan sambutan. misalnya, Noriyoki Suzuki, Sekretaris ITUC (Serikat Pekerja tingkat Konfederasi Internasional), yang memberikan apresiasi pada Perjuangan KSPI dalam gerakan buruh di Indonesia bahkan dunia Internasional. Hadir juga dan memberikan sambutan, Ketua Komis IX DPR RI, Dede Yusuf. Yang pada intinya, Kang Dede sapaan akrabnya, menyampaikan “Saya berharap Buruh Indonesia bisa lebih meningkatkan produktifitas dan kompetensi jelang MEA. Melalui pelatihan-pelatihan yang di fasilitasi oleh pemerintah yang bisa menaikan daya saing buruh Indonesia” ujar Dede Yusuf di akhir sambutannya. Dalam seminar Nasionalnya, KSPI menghadirkan beberapa Narasumber antara lain : Ichsanudin Nursi (Pengamat Ekonomi Nasional), Prof. Yudi Haryono (Guru Besar Ekonomi Politik Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Obon Tobroni (Calon Bupati Bekasi Kabupaten dari Independent) dan Muhammad Ridha (Pengamat Politik). Ichsanudin Nursy banyak membincang dan mengupas tuntas bahkan mengkritik betapa bobroknya ekonomi nasional Indonesia, dimana misalnya, beliau mengungkap bahwa Investasi yang sesungguhnya terjadi di Indonesia adalah bukan investasi, tapi Invasi Asing terhadap Indonesia. Sehingga untuk keluar dari krisis ekonomi ini dibutuhkan keseriusan mengembalikan modalitas sosial yang saat ini telah porak poranda.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/ahmadfauzihs/ichsanudin-nursi-dalam-kspi-bukan-investasi-tapi-invasi_56d5acc6337a61881da4f71010268434_1108311945855508_8485460598322388625_n

Saat Buruh Harus Bijak Atur Keuangan, Jangan Jatuh Di Pinjaman Rente 20%

Buruh, pekerja ataupun karyawan adalah sebutan secara definisi adalah seseorang yang bekerja di sebuah organisasi dan sebagai kompensasinya ia mendapatkan penghasilan sebulan sekali, besar penghasilan dari buruh ataupun pekerja alias karyawan ditentukan dan dibatasi dengan aturan dalam perusahaan.

Tahun
UMR /
UMP
Kenaikan
UMR /
UMP dlm US$[3]
Sumber
1979
Rp525/hari
?
$0,84/hari
1980
Rp600/hari
?
$0,96/hari
1991
Rp18,200
?
$9,33
1992
Rp20,330
11.7%
$10,02
1993
Rp23,930
17.7%
$11,47
1994
Rp31,290
30.8%
$14,48
1995
Rp36,820
17.7%
$16,37
1996
Rp40,740
10.6%
$17,35
1997
Rp135,353
232.2%
$48,81
1998
Rp153,971
13.8%
$16
1999
Rp179,528
16.6%
$23,05
2000
Rp213,700
19.0%
$25,57
2001
Rp286,100
33.9%
$28,04
2002
Rp362,700
26.8%
$39,06
2003
Rp414,500
14.3%
$48,31
(Tabel UMK dalam beberapa tahun terakhir:Sumber
Wikipedia)
 Dan biasanya upah buruh mengacu kepada Upah Minimum Kabupaten atau pun Upah Minimum Provinsi, dari sini lah sebenarnya pengelolaan keluarga berasal, dari gaji bulanan yang di terima, mampukah kaum buruh mencukupi kebutuhan sehari hari, mulai dari sandang dan juga pangan, sejujurnya dalam pengaturan keuangan bagi kaum buruh diperlukan sebuah kebijakan yang harus teliti karena dengan gaji yang sudah terpola setiap bulannya, di sanalah kejelian pengelolaan keuangan.Alih alih bisa melakukan investasi dari gaji yang di dapat, malah seringnya terbetik kabar bahwa kaum buruh harus menanggung belitan pinjaman berbunga, ini tentu saja akan membahayakan keuangan kaum buruh, perlu perenungan bahwa untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidup, akhirnya jalan terjal pun di tempuh yaitu dengan meminjam uang, dan apesnya pilihan meminjam uang dengan sistem rente pun seolah menjadi menu harian yang harus di lakoni kaum buruh, dan ini banyak terjadi di seputaran kita, padahal sejujurnya pun  kaum buruh tak menginginkan mengalami banyak hutang, apa lagi hutang yang di tambahi dengan bunga, memang sih kalau nerimanya enak tapi pas harus bayar terasa eneg di dada hehe.
Mewaspadai Sydrom Tanggal Muda
Pernah melihat antrian di kassa mengular? Sering jengkel melihat banyaknya belanjaan yang terkadang kurang terasa manfaatnya? Kalau ia mungkin sekali sydrom tanggal muda menjangkiti, biasanya di awal bulan saat para pekerja atau buruh menerima gaji bulanan, maka bersiap pula untuk bertemu dengan antrian panjang di toko swalayan, hyper market ataupun sebutan lainnya yang merujuk dengan tempat perbelanjaan.Apalagi para pasangan suami isteri yang hidup di era millenium di mana akses untuk mengunjungi pusat pusat perbelanjaan semakin mudah, menjamurnya pusat perbelanjaan semakin banyak di kota kota berbasis industri, memungkinkan pengelolaan keuangan keluarga harus lebih cermat, di saat tanggal muda inilah sebenarnya ujian bagi keluarga untuk mengelola keuangan, alih alih bisa berhemat, karena mengikuti nafsu di pusat perbelanjaan, yang tadinya tidak ingin membeli barang yang di maksud, malah jadi membeli karena iming iming diskon, ataupun memang dalam kondisi merasa banyak uang di tanggal muda, akhirnya pilihan membeli barang pun terjadi, sedangkan sebenarnya barang yang di beli bukanlah kebutuhan utama.
Langkah cerdas di awal bulan adalah menyiapkan pos pos anggaran yang memang harus benar benar di keluarkan, seperti cicilan kepemilikan rumah, iuran bulanan listrik, biaya sekolah anak dan prioritas utama, acap kali bila kita abaikan saat membayar untuk kepentingan utama, dan malah jor joran dalam pengeluaran yang tak perlu, bisa di tebak akhirnya di tengah bulan, uang ataupun cadangan penghasilan pun akan tergerus, dan dari titik inilah akhirnya terbuka peluang untuk mencoba menghitung hitung bisa kah meminjam? Dari sini sebenarnya awal petaka, dan lubang yang di gali seakan lebih dalam bila kita tergantung dengan sebuah pinjaman, apa lagi pinjaman dengan tambahan bunga yan tentu saja akan memberatkan bila membayarnya kelak.
Di tanggal muda inilah sebenarnya harus bisa melewati ujian yang sesungguhnya,
lebih baik memang merencanakan keuangan secara bijak karena jika kita sudah
bisa mengukur apa yangseharusnya kita beli di awal bulan, niscaya saat menghadapi tengah bulan maupun tanggal tua akan bisa di lewati, otomatis peluang untung meminjam dengan bunga rente pun bisa di hindari oleh pekerja atau buruh.
Mengatur CASHFLOW Bukan Hal Tabu Bagi Buruh, Pasti Bisa!
Menghadapi ekonomi yang kian sulit, di perparah dengan jatuhnya mata uang rupiah terhadap dolar, harga yang tak menentu, masih ingat bukan tentang mogoknya pedagang daging beberapa waktu lalu, dan juga di ikuti hal yang sama oleh pedagang ayam potong, di sebuah titik ketika harga harga meroket naik, maka dipastikan buruh atau pekerja dan tentu saja keluarganya pun terkena imbas, dengan gaji yang sama di setiap bulannya, namun fluktuatif harga
seperti berakrobat tiap hari, di sini kau pekerja yang memang di gaji rutin tiap bulan, pastinya harus mengelola cashflow secara elegant, casflow adalah arus keluar masuk uang dari penghasilan yang kita dapatkan, mungkinkah buruh dapat mengatur itu? Ya pasti bisa lah, menurut praktisi pengelolaan keuangan yang sudah banyak memberikan seminar maupun materi materi cara pengelolaan
keuangan yaitu Bapak Safir Senduk, ada 3 cara cashflow yang bisa kita kelola.
Pertama yaitu memiliki investasi sebanyak mungkin, kedua siapkan dana untuk
masa depan dan yang ketiga ialah atur pengeluaran.Yang menurut saya menarik adalah langkah pertama yakni memiliki investasi sebanyak mungkin, ini jadi sangat menarik karena ada pertanyaan lanjutn yaitu, bisakah buruh memiliki investasi sebanyak mungkin, bila di tanya kepada orang orang yang pesimis tentu gelengan kepala sebagai jawaban, kayaknya musykil seorang buruh mampu mengembangkan investasi, ternyata untuk berinvestasi bukan melulu klaim orang yang kaya raya, buruh pun bisa berinvestasi, sebuah kasus tentang investasi adalah saat seorang teman yang memiliki istri dengan hobi membeli emas, tak dinyana, logam mulia jenis emas tersebut memiliki nilai investasi yang mumpuni, saat harga emas mulai naik, ia pun melepas perhiasannya dan dari selisih harga saat ia membeli dan menjual kembali emasnya ada keuntungan yang lumayan, akhirnya istri teman saya itu pun semakin yakin bahwa investasi dalam bentuk emas perhiasan membawa hasil juga.Yang kedua yakni dengan mempersiapkan dana untuk masa depan, strategi cashflow ini tentu berjangka panjang, masa depan bukanlah di awang awang yang tak terjangkau, masa depan adalah keniscayaan, dan mulailah dari sekarang merancang pos pos pengeluaran untuk biaya di masa depan, mungkin untuk saat ini biaya biaya untuk masa depan tentunya seakan memberatkan, namun masa depan akan menjadi jauh lebih manis bila di nikmati nanti setelah di saat ini kita bersusah payah untuk merancangnya, yakinlah bahwa masa depan akan jauh lebih membahagiakan di banding kita tak merancang sama sekali tentang dana untuk masa depan. Dan yang ketiga adalah atur pengeluaran, dengan mengatur pengeluaran, bukan berarti kita terlalu ketat ya mengatur pengeluaran, sehingga hidup terasa berat untuk di jalani, dengan memahami pengaturan keuangan secara benar, maka ada banyak manfaat, setidaknya pengaturan pengeluaran bisa dikendalikan, maka dipastikan bahwa hidup akan jauh lebih menyenangkan, kita pun bisa mengatur dengan bijak bagaimana mengeluarkan pengeluaran secara efektif, dan bila ini bisa di lakukan maka untuk meminjam uang secara rente dengan bunga yang mencekik pun bisa di hindari sedini mungkin, ayo buruh kamu bisa!
Sudah Saatnya Buruh Terbebas Dari Jerat Rentenir
Perencanaan keuangan di setiap keluarga pastilah berbeda beda, namun muara dari sebuah perencanaan keuangan adalah menikmati indahnya hidup dengan tidak di ribeti hal hal yang malah membebani keuangan keluarga, sudah saatnya buruh pun mulai menata keuangan dengan cara cara yang lebih bijak dan cerdas, ada kalanya memang dengan segala keterbatasan dari gaji yang di miliki, malah di jadikan alasan pembenaran untuk meminjam, dalam jenis apapun sebenarnya meminjam bukanlah hal yang kita inginkan, namun bila benar mengelola keuangan, mungkin saja hal yang bernama meminjam bisa di minimalisir atau benar-benar jangan sampai meminjam sama sekali, itu jauh lebih baik.Jangan terlalu memaksa untuk membeli barang yang sebenarnya tidak kita perlukan, apa lagi hidup di lingkungan seperti perumahan yang notabene rumahnya relatif berdekatan, biasanya warga yang hidup di satu komplek perumahan, akan lebih tahu dengan keadaan tetangganya, misalnya tetangga A membeli kulkas, ada sebersit keinginan yang sama untuk segera membeli kulkas, kata orang orang mah yaitu memiliki sifat ‘panasan’ justru sifat ini bisa membuat perencanaan keuangan berantakan, gegara sifat yang memang susah di hilangkan, pengennya menyamai apa yang di capai tetangga meski memang sebenarnya keadaan keuangan tidak memungkinkan, dan akhirnya tergoda untuk meminjam uang meski uang tersebut adalah uang dengan resiko yang tinggi dengan tambahan bunga, jika kita tidak mengatur perencanaan maka di pastikan gelombang ke pailitan akan membayang. Merdeka dalam pengelolaan keuangan, merdeka dalam hal pinjaman, hindari dan terus hindari meminjam dengan cara rente, semoga jutaan buruh yang ada di Indonesia tetap bijak untuk mengelola keuangan, dan di antara ribuan buruh di Indonesia telah banyak menjadi korban dari pinjaman berbunga, semoga saja dengan sebuah perencanaan yang matang, mampu menghindarkan buruh dari sebuah jerat bernama jerat rente, semoga kita bisa melakukan itu wahai kaum buruh di Indonesia, semoga!

Dana JHT BPJS Ketenagakerjaan Belum Jamin Bebas Finansial di Usia Pensiun

dana jht bpjs

“Kan sudah punya dana JHT BPJS Ketenagakerjaan, ngapain mikirin lagi soal dana pensiun. Lagi pula, juga sudah ada program dana pensiun dari kantor. Itu sudah cukup kok.”

 Dulu bilang begitu. Tapi beda setelah kenalan sama pasangan ini saat penerbangan ke Singapura. Pasangan ini sepertinya di kisaran 50 tahunan. Selama satu jam terbang dari Jakarta ke Singapura, keduanya cerita banyak rencana menghabiskan waktu pensiunnya.

 ”Sudah lama banget kepengen jalan-jalan keluar negeri. Macam honeymoon jilid dua lah…hehehe. Enggak usah jauh-jauh. Cukup keliling ASEAN saja. Pertama ke Singapura dulu, terus geser ke Malaysia, terus ke Thailand, sampai ke Brunei,” tuturnya santai.

 “Pasti duit pesangon dari kantor gede ya bisa buat travelling keluar negeri?”

 Mereka malah balas tertawa renyah mendengarnya. ”Bukan pesangon yang gede tapi kami udah persiapkan rencana ini jauh-jauh hari saat masih kerja dan berniat pensiun dini dan ngambil program dana pensiun secara mandiri. Masak hidup dijejali sama kerjaan terus.”

Keren bin interesting bingits yak! Masa pensiun dihabiskan buat travelling? Duh, cerita mereka bikin super-iri. Menyenangkan sekali bisa jalan-jalan berdua sama suami atau istri tersayang di saat anak-anak sudah dewasa dan punya kehidupan masing-masing.

Padahal dulu yang kebayang pas pensiun cuma bisa bangun siang, enggak perlu panik kejebak macet, lupakan deadline kerjaan, enggak ada lagi ketemu bos killer atau temen kerja yang rese. Pensiun adalah hari menghabiskan waktu bareng keluarga tersayang plus bersenang-senang.

Kan dana pensiunnya sudah ada dari JHT BPJS Ketenagakerjaan plus program dana pensiun dari kantor. Toh, keduanya itu sumber duitnya dari gaji yang dipotong tiap bulan.

Mendapatkan dana pensiun sekarang ini memang bukan lagi monopoli pegawai negeri sipil (PNS) lagi. Sesuai UU No 13/2003 tentang Ketenagakerjaan, pekerja swasta juga berhak dapat dana pensiun. Biasanya difasilitasi perusahaan tempat bekerja dengan mengikutsertakan karyawan ke program Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK).

Mekanismenya dengan memotong sebagian gaji karyawan dan biasanya ditambah kontribusi dari perusahaan untuk ikurannya. Coba cek deh di slip gaji. Bila di situ ada potongan tambahan untuk dana pensiun di luar BPJS Ketenagakerjaan, berarti sudah disertakan dalam program DPLK.

DPLK adalah dana pensiun yang didirikan oleh bank atau perusahaan asuransi jiwa bagi masyarakat umum, baik karyawan maupun pekerja mandiri. Sebut saja Bank BNI dengan Simponi, Bank BRI, Bank Mandiri. Sedangkan dari asuransi antara lain AXA, Jiwasraya, AIG Lippo, dan AIA Indonesia.

dana pensiun lembaga keuangan (DPLK)

Nah yang jadi pertanyaan, apakah dana program pensiun baik dari kantor atau JHT BPJS Ketenagakerjaan sudah optimal? Apakah target dana pensiun dari keduanya sudah sesuai yang diinginkan? [Baca: JHT BPJS Ketenagakerjaan Itu Investasi Bukan Tabungan]

Kalau jawabannya belum sesuai harapan, maka perlu dipikirkan mencari program pensiun tambahan biar targetnya terpenuhi!

Paling gampang dilihat dari imbal hasil dari dua program dana pensiun itu. Silakan cek perkembangan dananya ke BPJS Ketenagakerjaan. Kalau hasil JHT BPJS Ketenagakerjaan dan DPLK dari kantor tak seusai harapan, mau enggak mau mesti cari opsi berinisiatif mencari cara agar target akan kebutuhan dana pensiun kelak tercapai.

Jalan keluarnya adalah proaktif untuk mencari cara agar dana yang dimiliki saat usia pensiun minimal bisa sama saat masa produktif. Apalagi kalau diberkahi umur panjang, otomatis pula kebutuhan akan dana pensiun makin besar.

Menuntut perusahaan agar menambah lagi porsi dana pensiunnya? Wah itu panjang urusannya. Lagi pula belum tentu perusahaan mau mengingat permintaan itu menambah lagi pengeluaran perusahaan.

Yang paling logis adalah menyiapkan rencana pensiun secara mandiri!

Memulai rencana pensiun mandiri

Langkah awal adalah menghitung kebutuhan berapa dana yang diharapkan saat pensiun kelak. Hitungan dimulai dari usia berapa hendak pensiun plus usia harapan hidup.

merencanakan keuangan pensiun

Coba buka-buka lagi buku putih kantor. Biasanya di situ disebut berapa usia pensiun yang diberlakukan bagian sumber daya manusia. Kebanyakan sih di usia 55 tahun.

Berikutnya menentukan standar dan gaya hidup yang diinginkan saat memasuki masa pensiun. Makin tinggi standar gaya hidup yang diinginkan maka makin tinggi pula dana yang mesti disiapkan.

Hal lain yang tak kalah penting adalah perhatikan kondisi kesehatan di usia tua. Ikut perhitungkan berapa banyak kebutuhan dana untuk pengeluaran biaya kesehatan. Maklumlah, makin renta umur makin riskan terkena gangguan kesehatan.

Bila sudah ketemu dan merasa JHT BPJS Ketenegakerjaan dan program pensiun kantor belum optimal meng-cover kebutuhan di hari tua, barulah survei mencari produk-produk dana pensiun di luar sana.

Produk-produk itu bisa menjadi instrumen ‘ternak duit’ dan baru bisa dipanen di hari tua. Produk itu bisa berasal dari bank maupun asuransi.

Tentu membutuhkan waktu yang tak sebentar dalam memilah-milah produk itu. Iya dong, kan ini soal komitmen menabung jangka panjang, harus dipikirkan dengan seksama mulai dari tempat penyimpanannya.

Terlebih menentukan produk yang tepat tak bisa asal-asalan karena mesti menyesuaikan dengan profil risiko diri sendiri.  Misalnya saja usia masih terbilang muda dan target pensiun masih 30 tahun lagi, maka bisa cari produk dana pensiun yang agresif.

Katakanlah di sini pengembangan dana pensiun itu dari saham, reksa dana saham, atau reksa dana campuran. Bisa pula ambil lebih dari satu produk agar mudah membandingkan ‘kinerja’ dua produk tersebut sekaligus meminimalisir risiko. Tentu kalau ‘duit’ untuk setorannya ada. [Baca: Pengertian Saham buat Para Pemula]

orang tua umur 60 tahun, jalan-jalan dan bahagia

Di samping itu, membuka produk DPLK secara mandiri ada keuntungannya juga. Utamanya adalah memaksa diri sendiri untuk komitmen berdisiplin sisihkan dana tiap bulan untuk dana pensiun. Lagi pula pencairan DPLK tak semudah tabungan sehingga terhindar godaan mengambil saldonya sebelum memenuhi target.

Rata-rata dana di DPLK baru bisa ditarik dalam kuruan waktu tertentu misalnya 5 tahun. Itu pun juga dibatasi jumlahnya plus ada biaya penarikan yang besarannya di rentang 1-2 persen dari jumlah dana yang ditarik.

Besaran setoran tiap bulannya bisa disesuaikan kok. Minimal rata-rata Rp 100 ribu per bulan. Bahkan ada beberapa DPLK yang cukup menyetorkan Rp 50 ribu per bulan. Duit segitu tentu berasa ringan bukan? Sebanding makan paket burger di McDonald.

Jangan malas evaluasi pengembangan dana

Rajin-rajinlah mengecek pengembangan di produk DPLK. Pastikan hitungan di situ seusai dengan asumsi awal. Kalau meleset, bisa ada waktu buat mengubah rumus racikan investasi biar sesuai ekspektasi semula. Misalnya racikan awal 70% obligasi-deposito dan 30% reksa dana saham bisa diubah menjadi sebaliknya.

Melihat perkembangan dana di DPLK juga membantu dalam persiapan kapan waktu yang tepat untuk pensiun. Maksudnya besaran dana DPLK dapat pula memutuskan untuk pensiun dini atau mengambil tawaran program pensiun dini dari kantor. Biasanya tawaran pensiun dini dari kantor itu duit pesangonnya lebih menggiurkan.

Memantau dana DPLK tak sulit kok dan bisa dipantau secara mandiri. Lha, sekarang kan zamannya online. Buka rekening, bayar iuran, tarik dana, sampai informasi saldo bisa dicek cukup dengan online. Enggak perlu mampir lagi ke kantor cabang di mana buka DPLK.

Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah cari yang ada proteksi untuk DPLK, yaitu asuransi yang melindungi setoran tiap bulan. Tanya lebih detail ke penyedia produk DPLK bagaimana asuransi ini bekerja.

Lebih singkatnya, berikut ini hal-hal yang perlu diperhatikan saat ambil produk DPLK.

1.Kemampuan finansial 

diagram pembagian jatah gaji bulanan berapa persen untuk asuransi, berapa persen untuk pensiun, dsb.

Setoran dana pensiun memang tak besar bisa dimulai Rp 50 ribuan. Meski begitu bukan berarti meremehkan hal ini. Menentukan besaran setoran sangat tergantung dari target dana yang hendak dicapai. Maka itu, mengukur kemampuan finansial menjadi poin utama dalam memilih produk. [Baca: Strategi Maksimalkan Keuangan di Masa Depan]

2.Biaya

Cermati juga biaya-biaya yang ada di DPLK. Bandingkan dengan seksama biaya yang dibebankan dengan manfaat dan jasa yang diperoleh dari dana pensiun. Jangan buru-buru memvonis DPLK yang mengutip biaya tinggi itu kurang bagus dari yang membebankan biaya rendah. Siapa tahu DPLK dengan biaya tinggi sebanding dengan manfaatnya.

3. Waktu

Ini juga penting. Makin dini mempersiapkan dana pensiun maka semakin ringan pula duit yang dikeluarkan tiap bulan. Kan kalau durasi menabungnya lama maka secara otomatis akumulasi dana yang dikumpulkan makin besar.

Ikut program DPLK lagi bisa jadi pilihan bila merasa hasil JHT BPJS Ketenagakerjaan dan dana pensiun dari kantor dianggap kurang memadai jadi bekal di sisa umur. Toh ikut DPLK sebenarnya juga bagian dari investasi.

Sederhananya begini, biarkan dana pensiun itu yang bekerja menghidupi kita di usia pensiun dan tak usah berpikir menjadi tanggung anak-anak lagi. Syukur-syukur duitnya cukup buat traveling, umroh, atau naik haji. [Baca: Perhatikan Item Sebelum Buka Tabungan Naik Haji]

Bebas pokoknya!

Image credit:

  • http://img.bisnis.com/posts/2015/03/09/409932/dplk.jpg
  • http://www.perencanaankeuangan.org/wp-content/uploads/2014/12/Dana-Pensiun.jpg
  • https://kawahdieng.files.wordpress.com/2014/04/kakek-nenek1.jpg
  • http://www.gajimu.com/images/Graph-3.jpg/image_large

Sumber : https://blog.duitpintar.com/dana-jht-bpjs-ketenagakerjaan-belum-jamin-bebas-finansial-di-usia-pensiun

Translate »
Web Design BangladeshBangladesh online Market