Generasi Y, Otomatisasi, Robotisasi,Elektronisasi Dan Masa Depan Serikat Pekerja

 

Oleh: Putu Raka Pendit( Ketua Litbang ASPEK Indonesia)

 

Generasi Y atau generasi milenial membawa cara pandangnya sendiri di dunia kerja, kalau tidak di sikapi akan memberi perubahan bagi Serikat Pekerja, bahkan dapat menggerus keanggotan Serikat Pekerja.

Generasi milenial lahir antara tahun 1980 sampai 2000, mereka mendominasi tenaga kerja saat ini dan mereka mempunyai ciri khas yakni kutu loncat, bosenan dan nggak mau di atur, sering kali malah terkesan sok tahu. Dunia ada dalam genggaman dan mereka lekat dengan teknologi, internet, media sosial. Generasi Y tidak mengutamakan loyalitas, mereka mudah untuk berhenti bekerja dan pindah pindah pekerjaan.

Alasan pindah kerja bisa soal finansial, bosan, management yang tidak sesuai dengan gaya mereka, kepemimpinan. Dengan demikian apakah Serikat Pekerja itu perlu bagi mereka? Apa yang bisa di tawarkan oleh Serikat Pekerja sehingga mereka mau menjadi anggota dan betah bekerja di perusahaan. Bila di tawari untuk menjadi anggota Serikat Pekerja mereka akan balik bertanya, apa itu Serikat Pekerja?

Coba di cek apakah anggota Serikat Pekerja bertambah komposisinya dari generasi Y? Serikat Pekerja harus segera beradaptasi dengan zaman yang begitu cepat berubah untuk menghadapi situasi generasi Y ini. Pola organising perlu strategi baru dengan menggunakan teknologi, media sosial, internet yang begitu akrab  dengan mereka.

Serikat Pekerja dapat menjadi alternatif menjawab kebosanan mereka, perjuangan yang memiliki dampak sosial yang luas dan tantangan tersendiri yang tidak mereka dapatkan di tempat lain. Rata rata usia generasi Y di kisaran 24 tahunan dan lebih senang menyendiri, cenderung acuh dan mereka asyik dengan dunianya yakni dunia maya.

Keadaan semakin runyam karena saat ini terjadi gelombang industri ke 4 di mana ada pekerjaan yang dulunya di kerjakan manusia, sekarang di gantikan oleh mesin, serba e.. e-toll,e-cash, beberapa industri percetakan kini di ganti dengan digital printing, kecerdasan buatan, robitisasi di negara maju sudah terjadi dan mengakibatkan pengurangan tenaga kerja dan ini pun sekarang telah mulai menggejala di negara perkembang yang justru tenaga kerjanya berlimpah dan bisa di tebak bahwa efek ini semakin menggelembungkan pengangguran.

Serikat pekerja atau Serikat Buruh akan merasakan dampak langsung yakni semakin menyusutnya jumlah keanggotan. Siapa yang bisa mencegah dengan menghadapi situasi ini? Pemerintah? Anggota Dewan? Sebenarnya yang bisa mencegah semua ini adalah Serikat pekerja itu sendiri. Persoalannya bagaimana hal itu bisa berjalan ada generasi Y. Robotisasi dan serba e-/-elektronik, outsourcing, otomatisasi yang membuat anggota Serikat Pekerja berkurang. Kaderisasi harus adaptif dengan mengemas isu perjuangan secara cerdas dan genial, bukan semata upah dan upah namun apakah kita besok bisa bekerja? Itulah yang harus kita pikirkan sekarang ini.

Bersatu Berjuang Sejahtera!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *