GTO, Menafikan Sisi Humanisme Penjaga Gerbang Tol

 

  Konpress tolak otomatisasi gardu tol(Media ASPEK) 

 

Bagi para yang mengalami era 90an, tentunya familiar dengan sebuah iklan tablet hisap vitamin C, di gambarkan seseorang yang memakai seragam biru tampak terdiam di sebuah gardu tol, seorang pelanggan sambil tersenyum menyapa gadis penjaga tol agar tersenyum. Dengan senyum ramah penjaga tol menyebutkan ia tidak sariawan karena menghisap tablet vitamin C. Iklan ikonik di gerbang tol ini melambungkan sebuah nama yakni Elma Theana sebagai penjaga tol di iklan tersebut menjadi selebritis papan atas tanah air.

Namun kisah penjaga tol versi Elma Theana sepertinya harus di paksa terhenti, peraturan pemerintah tentang otomatisasi gerbang tol menyingkirkan peranan orang orang yang selama ini menjaga tol. Di bulan Oktober nanti gerbang gerbang tol akan di pasangi palang otomatis yang akan menihilkan peran pekerja gerbang tol, tak ada lagi senyuman, tak ada lagi interaksi antara sesama manusia. Sisi humanisme manusia sebagai makhluk sosial seakan ingin di lenyapkan begitu saja. Otomatisasi gerbang tol mempunyai dampak signifikan, paling tidak 20 ribu karyawan gerbang tol terancam PHK.

Di gadang gadang pemerintah akan menyediakan ribuan tenaga kerja selama masa di mana rezim berkuasa, alih alih menambah tenaga kerja, peraturan otomatisasi gerbang tol malah mematikan lahan pekerjaan bagi karyawan di usia produktif, mesin otomatis gardu tol ternyata menghapus lapangan kerja bagi lima orang lho. Kalau ada argumen bahwa ini bentuk efisiensi kemacetan yang terjadi di jalan tol, mari kita renungkan kembali.

 

Pekerja jalan tol yang otomatis tersisih setelah adanya GTO(Media ASPEK)

 

Faktanya bahwa kemacetan di tol ada beberapa penyebab, satu yakni volume kendaraan yang tak seimbang dengan jumlah lajur tol yang tersedia. Kedua adanya pertemuan arus baru dari pintu masuk tol. Yang ketiga banyaknya kendaraan besar yang melaju dengan kecepatan relatif lambat. Ke empat adanya kendaraan besar yang tiba tiba berhenti alias mogok ataupun terjadi kecelakaan lalu lintas. Terakhir adanya  pintu keluar tol yang bersinggungan karena dekatnya lampu merah di jalan arteri dan perempatan jalan.

Era milenial memang menjelang, kecanggihan teknologi pun tak bisa terelakan, namun bukan berarti mengganti begitu saja tenaga manusia dengan teknologi yang menyebabkan potensi penggangguran semakin nyata. Negara jangan abaik dengan hal itu, sepertinya bulan Oktober ini di mulai sebuah “tragedi” yakni menihilkan sisi humanisme yang bertahun tahun melekat di gerbang tol kita, selamatkan pekerja tol! (Media ASPEK-TI)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *