HARGA BARANG MELAMBUNG TINGGI, EMAK-EMAK GELAR AKSI, GUGAT PEMIMPIN NEGERI

Jakarta, 24/7/18 – ASPEK Indonesia (Asosiasi Serikat Pekerja Indonesia) menyatakan keprihatinan atas kondisi bangsa saat ini dimana harga barang semakin melambung tinggi tanpa bisa dikendalikan oleh Pemerintah. ASPEK Indonesia juga mengkritisi ketidakberpihakan Pemerintah atas semakin sulitnya kondisi ekonomi rakyat dan menurunnya kemampuan daya beli masyarakat. Demikian disampaikan Mirah Sumirat, SE, dalam keterangan pers kepada media.

Bayangkan, di saat harga cabai semakin mahal, seorang menteri malah menyuruh rakyat tanam cabai sendiri! Di saat harga beras mahal, seorang menteri malah meminta rakyat miskin untuk diet dan tak banyak makan! Namanya rakyat miskin, sudah pasti kekurangan makan. Ketika tarif listrik naik, rakyat malah disuruh cabut meteran. Belum lagi soal harga telur yang saat ini semakin melambung tinggi. Pemerintah yang seharusnya bekerja untuk rakyat dengan mengendalikan harga-harga barang demi terwujudnya kesejahteraan rakyat, malah memberikan saran yang lucu dan terkesan kehilangan empati. Belum lagi kenaikan harga BBM & listrik yang semakin memberatkan rakyat. Pemerintah yang seharusnya hadir ketika rakyatnya menderita, justru tidak memberikan solusi yang nyata lewat kebijakannya, ungkap Mirah.

Senada dengan Mirah, keprihatinan yang sama juga diungkapkan oleh Roro Dwi Handayani, Ketua Komite Perempuan ASPEK Indonesia. Kondisi rakyat yang semakin sulit ini juga tidak terlepas dari dampak adanya Peraturan Pemerintah No.78 tahun 2015 tentang Pengupahan yang nyata-nyata bertentangan dengan Undang-Undang Ketenagakerjaan No.13 tahun 2003, karena telah menghilangkan survey kebutuhan hidup layak (KHL) dalam penetapan upah minimum. Ini mengakibatkan kemampuan daya beli rakyat semakin terpuruk. PP 78/2015 adalah regulasi yang dibuat hanya untuk kepentingan kelompok kapitalis dan pengusaha hitam, karena tidak berorientasi pada peningkatan upah untuk kesejahteraan rakyat. Upah minimum ditekan, yang untung pengusaha. Harga barang semakin tinggi, yang “buntung” seluruh rakyat. Lantas pertanyaannya, Pemerintah bekerja untuk kepentingan siapa? Jargon Pemerintah “Kerja, Kerja, Kerja!” ternyata kerjanya bukan untuk rakyat, tapi untuk kepentingan pemilik modal! tegas Roro.

Menyikapi kenaikan harga barang yang semakin melambung tinggi tanpa mampu dikendalikan Pemerintah, maka besok (Rabu, 25 Juli 2018) ribuan buruh perempuan yang tergabung dalam Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), yang di dalamnya juga terdapat ASPEK Indonesia, akan melakukan aksi unjuk rasa di depan Istana Negara, Jakarta. Aksi akan dimulai dari patung kuda depan kantor Indosat dan longmarch menuju Istana Negara.

Mirah mengungkapkan, selain buruh perempuan KSPI, juga akan turut hadir ribuan buruh perempuan dari FSPASI dan “emak-emak” dari berbagai lapisan masyarakat, yang akan bergabung dan menyuarakan jeritan rakyat ini. Emak-emak ini, terutama ibu-ibu rumah tangga, menjadi pihak yang paling merasakan langsung dampak dari kenaikan harga barang dan juga terkena dampak karena upah suaminya sebagai pekerja tidak dapat lagi mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari hingga akhir bulan. Rakyat dipaksa “gali lobang, tutup lobang” untuk bisa mencukupi kebutuhan hidup keluarga. Ironis, negeri yang kaya raya ini ternyata tidak mampu mensejahterakan rakyatnya, ungkap Mirah.

Mirah menyampaikan bahwa buruh perempuan KSPI akan mengusung 3 tuntutan:

1. Turunkan harga sembako, BBM, dan TDL (bangun kedaulatan pangan dan energi). Implementasikan pasal 33 UUD 1945 oleh Negara, agar kekayaan alam kembali dikuasai oleh Negara untuk kemakmuran seluruh rakyat Indonesia.

2. Cabut PP 78/2015 yang menyebabkan upah murah dan daya beli turun – Stop rencana penghapusan upah sektoral.

3. Stop PHK massal – Stop Tenaga Kerja Asing (TKA) Unskilled workers – Ciptakan lapangan pekerjaan yang layak dan berkelanjutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *