Perusahaan Tolak Diskusi, Serikat Pekerja PT. Linfox Logistics Indonesia (SPLLI) Lakukan Konsolidasi Akbar

Bekasi, 30 Desember 2017 – Afiliasi Asosisasi Serikat Pekerja Indonesia (ASPEK Indonesia), Serikat Pekerja PT. Linfox Logisics Indonesia (SPLLI) akan melakukan konsolidasi akbar pada tanggal 1 Januari 2018, akibat tindakan penolakan PT. Linfox Logistics Indonesia untuk melakukan diskusi dengan pihak serikat pekerja terhadap kasus PHK sepihak yang dialami penggurus dan anggota serikat pekerja dengan jabatan Supervisor dan pengaturan waktu kerja hari libur Nasional yang bekerja di WDC disamakan dengan BOF yang dilakukan perusahaan.

 

Aris Kuncoro selaku Ketua Umum Serikat Pekerja Linfox Logistics Indonesia (SPLLI) menjelaskan permasalahan ini berawal dari Pihak management PT.Linfox Logistics Indonesia yang melakukan pemanggilan kepada 18 karyawan dengan jabatan Supervisor, pembahasannya adalah mengenai perubahan culture/budaya struktur kerja management PT. Linfox Logistics Indonesia, dimana tidak ada lagi jabatan Supervisor di tahun 2018 dan karyawan tersebut akan di PHK dan mendapatkan pesangon sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

 

Ia pun menjelaskan kami dari pihak serikat pekerja sudah melayangkan surat permohonan bipartite dimana kami ingin diadakan diskusi pada tanggal 22 Desember 2017 namun pihak management menolak, seiring berjalannya waktu pihak management justru menambah permasalahan dengan menerapkan sistim baru tentang pengaturan waktu kerja hari libur nasional dimana yang bekerja di WDC disamakan dengan yang di BOF, kami kembali mengirimkan surat permohonan bipartite untuk kedua kalinya pada untuk diadakan diskusi pada tanggal 27 Desember 2017 namun lagi lagi pihak managemen menolak dengan mengganti waktu pertemuan pada tanggal 8 Januari 2018.

 

Ia juga menambahkan kami sebagai pihak serikat pekerja amat sangat dirugikan dengan penundaan pertemuan untuk diskusi yang dilakukan management PT. Linfox Logistics Indonesia, hal ini dikarenakan situasi kerja kami yang sudah tidak nyaman dengan di lakukannya sistem non job terhadap supervisor dan pihak menagement melakukan pemanggilan terhadap karyawan secara diam diam tanpa ada pendampingan dari kami pihak serikat pekerja, hal ini berdampak dengan ter-PHKya 5 orang anggota kami.

 

Ia pun menegaskan dengan alasan apapun kami (Serikat Pekerja PT. Linfox Logistics Indonesia)  menolak tindakan pemutusan hubungan kerja secara sepihak yang dilakukan pihak management PT. Linfox Logistics Indonesia kepada 18 karyawan yang berposisi sebagai supervisor, yang dimana Ketua Umum Serikat Pekerja PT. Linfox Logistics Indonesia menjabat sebagai supervisor dan hal ini dapat di Indikasi tindakan Union Busting.

 

karena diduga melakukan tindakan union busting, sesuai dengan pasal 28 jo pasal 43 undang undang no. 21 tahun 2000 tentang serikat pekerja/serikat, tindakan union busting dapat dikenakan sanksi pidana penjara 1 sampai 5 tahun, denda Rp. 100.000.000 sampai Rp. 500.000.000 dan ini merupakan tidakan pidana kejahatan.

 

Dari semua permasalahan yang terjadi kami pihak pimpinan Serikat Pekerja Linfox Logistics Indonesia (SPLLI) menyatakan :

  1. Stop union busting

Dengan alasan restructurisasi job fungsion supervisor yang mana Ketua Umum dan pimpinan SPLLI akan diPHK

  1. Stop PHK sepihak terhadap karyawan

Secara diam-diam management memPHK karyawannya tanpa boleh didampingi oleh SP. LLI

  1. Tolak tuker hari yg di WDC mengikuti BOF

Karena system kerja dan rotasi antara keduanya berbeda, dimana WDC sudah menggunakan 4 group dengan rotasi 2hrpagi – 2hr siang – 2hr malam dan 2hr libur sehingga mulai masuk kerjanya dishift pagi sebaliknya dengan 3 group di BOF dimulai shift malam dengn rotasi 6 hari kerja dan libur dihari minggu

  1. Buka sosial dialog segera.

 

Selain pernyataan sikap, kami akan mengkonsolidasikan seluruh anggota pada tanggal 1 januari 2018 terkait pernyataan sikap organisasi serta menentukan langkah selanjutnya.”pungkasnya”.(tim.media.aspekindonesia)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *